Senin, 30 April 2012

Balada Pacaran Jarak-Jauh

 Akhir-akhir ini sedang merasakan kembali apa yang disebut dengan "Balada Pacaran Jarak-Jauh." Karena terbiasa menjadi kembar dempet (selalu bersama-sama kemana pun dan di mana pun), akhirnya saya sekarang sering menjadi bulan-bulanan teman-teman. 
 Padahal sebenarnya, baik aku maupun dia biasa saja dalam menjalani semua ini. Toh, kondisi yang kami hadapi ini dapat tertangani dengan baik seiring dengan semakin majunya teknologi komunikasi di dunia. Bahkan, saat ini tingkat ke-gaptek-an saya mulai dapat sedikit berkurang lho...
 Contohnya sekarang saya mulai tahu bahwa skype itu menyenangkan. Hehehe...

Sepertinya Balada Pacaran Jarak-Jauh memicu munculnya gosip-gosip tidak sedap. Sebagai contoh, gara-gara suatu ketika kedapatan makan sendirian di kantin, saya digosipkan sedang menjalin hubungan terlarang dengan botol kecap yang kebetulan memang sedang menemani saya. Padahal botol kecap yang malang itu sebenarnya tidak sengaja menemani saya, dia hanya berada di waktu dan tempat yang kebetulan sama dan teronggok berhadapan dengan saya. Jadilah dia menjadi tersangka pihak ketiga di antara kami (saya dan kekasih.red). Malang sekali. Sampai sekarang kalau kekasih saya mengorek-ngorek hasil pengintaian teman-teman dengan siapa saya main gila, paling akan dijawab," Sama botol kecap mas." Untung, kekasih saya yang baik hati itu cukup mampu diberi pengertian jadi dia tidak lantas membabi buta.
Singkat kata, singkat cerita...ternyata yang namanya pacaran jarak-jauh itu tidak mudah. Badai yang menerpa bukannya semakin surut tetapi justru makin keras menerjang. Tapi, saya tidak kecil hati, karena almarhum om Chrisye selalu bilang kalau,"Badai pasti berlalu.....". Demikianlah saya seperti mendapat pencerahan bahwa seberat apapun pasti akan berlalu juga. 
Selain itu seperti kata om Chrisye juga yang membuat saya bernyanyi,"walau ke ujung dunia...pasti akan kunanti, meski ke tujuh samudra...pasti ku kan menunggu...karena kuyakin...kau hanya untukku #sera!!!". Hahaha... ini efek negatif dari Balada Pacaran Jarak-Jauh yang saya jalani yaitu meningkatnya kadar kimcil dan alay yang sempat berkurang kemarin. 


Elora

Hujan

Tik. . .tik. . .tik. . .bunyi hujan di atas genting
Bergemericik menciptakan melodi yang khas
Air yang jatuh beradu dengan genting tanah liat
Sebagian ada yang muncrat berhamburan
Yang lain menggenang dicekungan

Tik. . .tik. . .tik. . .bunyi hujan di atas genting
Tersela-sela oleh gemuruh petir yang ingin juga tampil
Dengan kilatan cahaya bak lampu sorot
Bergemuruh riuh rendah tak mau henti

Tik. . .tik. . .tik. . .bunyi hujan di atas genting
Beralun perlahan
Tak ubahnya seorang janda yang ditinggal mati
Serupa rintihan insan patah hati
Sama seperti tangisan batin

Tik. . .tik. . .tik. . .bunyi hujan di atas genting. . .
Semakin lama semakin sering
Semakin lama semakin sering
Aku tak membenci hujan
Aku tak menyukai hujan
Tapi aku menunggu hujan dan menunggu bumi lelah menumpahkannya
Karena yang aku suka
Dan aku tunggu adalah pelangi
Pelangi seusai hujan


Elora

Minggu, 29 April 2012

Kebahagiaan Seorang Fasilitator

Beberapa waktu ini, saya bersyukur karena diberi kesempatan untuk mengembangkan ilmu dari bidang studi yang saya tekuni. Setengah tahun belakangan saya giat bekerja magang sebagai fasilitator acara training atau out bond di beberapa event provider out bond tertentu. Kesempatan ini tidak lepas dari bantuan beberapa kenalan yang membawa saya ke dalam dunia baru yang luar biasa ini. Dunia yang memberi saya kesempatan lebih untuk melihat seperti apa kira-kira sisi lain dari dunia kerja yang akan saya hadapi besok.

Menjadi fasilitator mengenalkan saya, pada sebuah pemahaman tentang bagaimana luasnya dunia. Ketika saya ternyata keliru bahwa saya mampu menguasai teori. Tapi nyatanya dalam sebuah praktek seringkali teori menjadi sesuatu yang lebih fleksibel tapi juga lebih rumit.

Pelajaran berharga sebagai seorang fasilitator yang akan saya ingat baik-baik adalah...
1. Bagaimana kondisi fisik merupakan hal yang sangat penting. Aktifitas menemani sebuah tim kerja selama sehari atau lebih tentu harus disertai dengan fisik yang prima. Hal ini supaya kita tetap tanggap dengan kebutuhan klien dan tetap dapat fokus pada materi yang harus tersampaikan dengan maksimal pada klien. 

Apalagi, dalam beberapa kasus kondisi fasilitator sangat menunjang keberhasilan pembentukan team building. Misalnya, pernah saya tanpa sengaja membawa mood buruk saat mendampingi kelompok, ternyata efeknya terasa lho pada klien. Mereka jadi ikut-ikutan tidak bersemangat selama mengikuti kegiatan. Tentunya proses training menjadi tidak optimal. Ini menjadi evaluasi berharga bagi saya, sehingga saya selalu ingat untuk selalu tampil energik dihadapan klien. Tentunya mood baik akan membantu kita untuk lebih nyaman dalam berkegiatan bukan jadi menurut saya tidak ada yang salah dengan kesediaan membagi senyum dan keceriaan pada saat kelompok mulai kendur. Tapi yang harus diingat ungkapan tentang SERSAN, Serius tapi santai.....

2. Kuasai betul materi dan perkaya games penunjang. Hal ini menjadi penting karena dengan menguasai betul materi yang akan kita bawakan tentunya klien akan lebih respect dengan kita. Hal ini membuat kita menjadi tampil lebih PD. Dalam beberapa event, materi outbond dan training di sampaikan dengan menggunakan games, oleh sebab itu fasilitator dituntut untuk paham betul tentang games-games yang akan digunakan. Jadi, ada kesesuaian antara materi-game dan kesimpulannya.

 (Kapan lagi naik beginian kalo nggak pas lagi jadi fasil?)

3. Ice breaking itu penting juga lho...ice breaking itu semacam games tetapi lebih ringan karena tidak fungsinya hanya sebagai menaikan mood dan energizer. Jadi, selain pemahaman atas game juga penting lho untuk mengingat lebih banyak ice breaking. Karena pemberian IB ini akan sangat mampu menaikan mood klien saat terasa mulai mengendur.

Ah,,,,sebenarnya masih banyak pelajaran berharga yang saya dapat, tapi hanya sekian yang saya mampu terjemahkan dengan manusiawi sehingga bisa saya bagikan.

Lepas dari itu semua, hal lain yang dapat banyak hal dari Out Bond dan Training. Seperti bertemu dengan orang-orang baru yang sudah jauh lebih berpengalaman tetapi rela berbagi. Pergi ke berbagai tempat menarik dan menyenangkan. Bagian ini paling seru karena saya bisa bekerja, belajar dan bermain sekaligus. Hahahaha.... yang pasti saya menyukai ini semua. Puji Tuhan.
(Bersama mereka yang tetap tersenyum meski badan porak-poranda)

Elora

Tragedi Jenuh

Berjalan mencuri waktu
Dengan kepala terangkat angkuh
Gerak tubuh bak ratu
Tanpa menyadari ada kepala sekeras batu
Yang begitu sulit untuk patuh
Meski dipaksa dengan buluh
Jiwa yang bergolak dalam tubuh
Senantiasa menunggu
Meski acuh tak acuh
Bagai mengharap dunia runtuh
Tak terasa peluh yang jatuh
Seolah mengabaikan segala kelu
Sosok yang dinanti kian menjauh
Melupakan kesan yang tertangguh



Elora

Sisi Lain dari Film Korea

Jangan samakan penggemar film Korea dengan penggemar musik Korea (K-Pop lover). Meskipun kadang dua hal tersebut memang seringkali berkorelasi positif.  Saya sendiri cukup menggemari film Korea (dibaca: ungkapan halus dari gila film Korea)  dan kurang paham dengan lagu-lagu ala K-Pop. Bukan karena tidak bagus, tapi karena saya sendiri tidak faham mereka bicara apa dalam lagu-lagu yang mereka nyanyikan meski harus saya akui musiknya cukup menyenangkan untuk didengarkan.
Film Korea yang saya tonton pertama berjudul "Endless Love". Sebuah film yang dibumbui dengan kisah cinta dramatis dan cukup menguras air mata. Dan akhirnya membawa nama Song Hye Kyo menjadi idola baru bagi remaja Indonesia. Aktingnya sebagai gadis yang mengidap leukimia sukses membuat para penggemarnya termehek-mehek.
Film inilah yang menjadi titik awal di mana saya tertarik dengan film Korea. Pemilihan tempat yang sangat indah, sudut pengambilan gambar yang tidak monoton (tidak hanya close up) dan cerita yang memiliki alur yang jelas membuat saya jatuh hati.

Sayangnya... akhir-akhir ini, beberapa orang sering mencibir kegemaran saya mengikuti serial drama Korea. (terlepas dari ini adalah selera). Beberapa kakak saya beranggapan bahwa efek film Korea membuat kondisi psikologis seseorang menjadi menye-menye (dibaca: lemah atau kurang lebih begitu). Beberapa dari mereka beranggapan terlalu sempit bahwa film Korea adalah "Sinetron versi Korea". Eits...tunggu dulu, kalau pemahaman ini jelas saya tidak setuju.
Harus saya akui kalau saya memang tidak tertarik dengan sinetron Indonesia, sehingga tidak bijak menyamakan keduanya. Bisa jadi sinetron Indonesia memiliki daya tarik tersendiri bagi penggemarnya, akan tetapi bagi saya film Korea memiliki daya tarik yang tidak sedangkal yang dibayangkan oleh beberapa orang yang tidak masuk dalam jajaran penggemar film Korea. Kenapa demikian? Berikut alasan saya:

1. Film Korea itu punya alur cerita yang jelas.
Saya rasa sudah bukan lagi jamannya di mana Anda menikmati serial bersambung yang isi ceritanya berputar-putar tanpa jelas sebenarnya itu serial mau berbicara tentang apa. Ditambah lagi jika isinya hanya trik-trik berlebihan sebagai bentuk kekejian saja. Apalagi, saya tidak habis pikir dengan perpanjangan-perpanjangan episode yang diberikan hanya karena serial itu digemari, sehingga serial itu "nggak ada matinya" sampai-sampai Sutradara serial tersebut harus memutar otak untuk berpikir, "Episode ini siapa lagi ya yang mati?". Nggak berhenti disitu aja, tetapi penonton dibuat terlongong-longong dengan kenyataan bahwa Kematian adalah sebuah lelucon April MOP di mana ternyata itu hanya rekayasa. Episode selanjutnya, yang mati bangkit lagi dan jadi orang lain. Buset....serasa film Tom and Jerry kan jadinya.

Hal ini tidak berlaku di serial drama Korea. Mereka membuat serial di mana sesuai dengan kasanah penceritaan di mana ada awal, klimaks dan tamat. Jadi, meskipun penggemarnya buanyak, tetap aja tamat. Tengok saja BBF (Boy Before Flower) yang memberi dampak panas dingin dengan keberadaan empat lelaki tampan yang memikat. Ceritanya ringan, berkisar tentang cinta yang dibumbui perjuangan kehidupan. Tetapi film ini nggak melulu tentang gadis cengeng yang terlalu baik seperti menunggu durian runtuh, tetapi tentang perjuangan dia dalam menjalani kehidupannya. Dan dari episode 1 sampai akhir, benang merahnya benar-benar kuat.


2. Film Korea tidak melulu tentang cinta.
Siapa bilang film Korea cuma bertemakan kisah cinta dramatis penuh air mata? Saya memang mengakui cinta memang selalu sukses menjadi bumbu pemanis tapi tidak selalu menjadi tema pertama. Contohnya: The Great Queen Seondeok yang berisi tentang bagaimana seorang wanita Korea memiliki kecerdasan yang luar biasa, sehingga memiliki karisma yang mampu menggerakkan orang banyak. Selain itu juga berisi berbagai macam taktik-taktik perang yang anggun dan tidak mudah terbaca. Atau serial berjudul Jewel in the Palace yang menceritakan tentang dokter wanita pertama di Korea. see??? Bersyukur kita punya banyak pahlawan yang sangat rendah hati sehingga tidak menuntut kisah mereka dipublikasikan dan membiarkan para hantu dan abg ababil yang  eksis dikancah layar kaca.


Saya sadar bahwa pemilihan tontonan kembali lagi kepada selera. Sebagai WNI saya juga memiliki kecintaan pada tayangan-tayangan yang disiarkan televisi negeri maupun swasta di Indonesia (selain sinetron). Tetapi setiap orang pasti memiliki alasan mengapa dia menyukai sesuatu, dan ini alasan saya. Mari saling menghargai, dan saya juga akan mencoba menghargai para pecinta sinetron. Bukan dengan ikut-ikutan nimbrung nonton, tetapi cukup dengan bersabar saat menunggu jam sinetron habis dan mencari serial lain yang lebih asoy. Dan buat kalian yang belum tertarik, siapa tau mulai merasa getar-getar panggilan untuk mengikuti serial Korea. hehehe....

Elora

Sabtu, 28 April 2012

Berkaca

Serasa berkaca
Menyadari begitu banyak bagian dari diriku ada padamu
Seperti melihat ke dalam diri
Dan menemukan gambaran diri
Serupa tapi tak sama
Tak ingin kumiliki dirimu
Tak juga ingin merebutmu darinya
Karena kita terlalu sama
Sebuah kesadaran yang membuatku selalu ingin bersamamu
Entah apa namanya
Kurasa bukan cinta
Tapi kau layaknya belahan jiwa
Adakah kita benar akan bersama ?
Bahagiaku melihatmu bahagia

Elora

Kamis, 26 April 2012

Senja untuk Wulan

    Selalu ada kehangatan yang menyapa hati setiap kali melihat semburat jingga dikala senja. Bagi Wulan, senja menghadirkan sensasi yang romantis, hangat dan teduh. Kota akan mulai dipenuhi cahaya lampu. Matahari yang selalu tampil gagah bersiap untuk digantikan kerlip bintang yang bertaburan atau rembulan yang bersinar lembut. Jika senja datang Wulan akan duduk di beranda kamarnya dengan ditemani secangkir teh manis hangat, kemudian menikmati senja yang hanya berlangsung sekitar beberapa menit saja. Memanjakan matanya untuk melihat gradasi warna di langit yang biasanya didominasi warna biru atau putih. Seperti saat ini, saat kesibukan telah berlalu dari sisinya dan menyisakan sedikit waktu untuknya beristirahat.
    Wulan menyesap tehnya perlahan, membiarkan kehangatan dan rasa manis memanjakan lidah dan tenggorokannya. Namun tak berapa lama ia mendapati layar ponselnya berpendar menampilkan sebuah nama yang dikenalnya. Dengan hati-hati Wulan meletakkan cangkirnya dan meraih ponsel yang tak henti-hentinya berpendar menuntut perhatian.
    “Ada apa Wan?” sapa Wulan begitu memulai pembicaraan. Jawaban orang di seberang sana membuat wajah Wulan dihiasi sebuah senyum.
    “Maaf wan, sehari ini aku sibuk.”
    “Iya, nggak apa. Baru pulang kah ?”
    Bla. . .bla. . .bla. . . dan pembicaraan mengalir di antara sepasang kekasih yang dipeluk rindu itu. Percakapan menjadi tali panjang tak terputus membuat Wulan tak menyadari senja yang telah menghilang di ujung cakrawala dan malam telah datang menggantikannya.
Berbeda dari kecintaan Wulan pada senja, baginya Awan adalah cintanya yang kedua. Seperti senja, Awan juga mampu menghadirkan kehangatan dan kenyamanan. Namun lebih nyata, karena sosok Awan dapat disentuhnya. Meski demikian bersama dengan kekasihnya itu Wulan seringkali merasa ada batas tak kasat mata di antara mereka. Batas yang ia sendiri tak begitu faham. Batasan yang tak pernah ada saat ia mengagumi senja.

***
    Wulan bertemu Awan setahun yang lalu dalam sebuah pameran lukisan. Puluhan atau mungkin ratusan lukisan pilihan memenuhi dinding gedung seni yang terletak di pusat kota waktu itu. Wulan bukan penikmat seni yang baik. Alasan ia akhirnya bersedia menuruti permintaan Lintang datang ke pameran itu hanya satu yaitu sebuah lukisan. Berbekal keahliannya dalam bidang marketing, Lintang meyakinkan Wulan jika temuannya tak akan mengecewakan. Lintang bahkan berani bertaruh lukisan itu akan menjadi gerbang awal sahabatnya menyukai seni.
 Wulan tak memungkiri bahwa sahabatnya benar. Lukisan itu langsung membuatnya jatuh cinta sehingga membuatnya rela berdiri berjam-jam memandanginya. Lintang hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya itu. Ia senang karena akhirnya bisa menyeret Wulan untuk menemaninya. Tetapi kalau hanya satu lukisan yang diminati, penyelenggara bisa sakit hati.
Berbeda dengan gadis manis berambut hitam sebahu itu, Awan adalah pecinta seni. Seorang pemuda energik bermata sipit. Dilehernya selalu tergantung kamera profesional. Mata sipit itu mungkin akibat kebiasaannya mengintip objek di balik kamera. Ah. . .tentu saja itu hanya kelakar. Tapi jangan salah meskipun sipit, mata itu memiliki tatapan setajam elang yang siap menaklukan siapapun. Termasuk Wulan. Mungkin.
Di depan lukisan bertema “Senja di penghujung surya” cerita Wulan dan Awan dimulai. Mungkin cinta pada pandangan pertama. Karena sejak melihat Wulan, Awan tahu ia menemukan yang dicari. Seperti halnya Wulan yang menemukan apa yang ia cari dalam lukisan di hadapannya.

***
    “Di sana tempat kita ketemu dulu ya Lan,” ucap Awan sambil memandangi gedung kesenian yang berdiri kokoh di seberang cafe. Gedung yang mempertemukan mereka dulu.
 Wulan mengikuti arah mata Awan memandang. Teringat lagi sebuah lukisan yang membawanya masuk dalam dunia yang belum pernah diminatinya.
    “Ngomong-ngomong itu lukisan apa ya?” tanya Awan.
    “Senja di penghujung surya,” jawab Wulan perlahan,”Sayang. . .lukisan itu nggak dijual.”
    “Hahaha. . .sebegitu tergila-gilanya kamu sama senja,”goda Awan.
    “Jelas. . .”
    “Kenapa?”
    “Karena aku suka sekali senja.”
 “Lebih dari aku?” sebuah pertanyaan bodoh terlontar begitu saja seiring dengan munculnya perasaan yang tidak enak yang entah darimana datangnya.
    “Ya,” jawab Wulan begitu tegasnya sampai Awan merasa cukup terkejut. Entah kenapa, perasaan tidak enak itu masih bergelayut manja dihatinya dan enggan untuk beranjak pergi. Enam bulan mereka bersama tapi belum pernah sekalipun gadis itu mengatakan cinta.
    Awan membuang jauh-jauh semua perasaan tidak enak yang memenuhi hatinya. Sungguh terlalu mencemburui sesuatu yang tidak nampak. Ia sendiri malu dengan reaksi tubuhnya. Senja itu hanya sebuah fenomena alam tak pantas dicemburui. Lagipula cinta tak selalu harus diucapkan.

***
3 bulan kemudian. . .

     “Senja di penghujung surya,” gumam Wulan kagum menatap lukisan yang terpampang megah di hadapannya.
    Awan merasa kelegaan mengaliri tubuhnya ketika menyaksikan reaksi Wulan. Seminggu lamanya dia mempersiapkan kejutan ini. Hampir saja ia menyerah, mencari lukisan bukan hal yang mudah apalagi jika tak tahu siapa pelukisnya. Tetapi tekadnya untuk memberikan kado istimewa di hari ulang tahun Wulan. Awan semakin giat mencari dan tepat 11 November 2010 usahanya membuahkan hasil. Ia memberanikan diri melingkarkan tangannya di pinggang Wulan yang masih menatap kagum lukisan di hadapannya. Beberapa saat lamanya mereka berdua terhanyut dalam diam dan menikmati lukisan dihadapan mereka. Wulan menyandarkan kepalanya ke bahu Awan. Ia membawakan senja untuk kekasihnya.
    “Terima kasih,” bisik Wulan.
    “Kembali kasih,” balas Awan kemudian mengecup kening Wulan lembut.
    Wulan menatap mata Awan dan menemukan sebongkah cinta yang besar di sana. Cinta yang selalu merengkuhnya tiap hari. Perasaan yang dibalut dengan ketulusan sekaligus kesetiaan. Tapi entah kenapa hatinya masih ragu. Firasatnya membisikkan sesuatu yang besar akan segera terjadi. Selama beberapa waktu belakangan Wulan mendapati batas tak kasat mata yang berada di antara mereka semakin lama semakin jelas.
    “Take your time dear,” bisik Awan lalu berbalik dan mulai berburu bersama kamera profesional yang sedari tadi bergelantungan di lehernya.
Wulan menatap punggung kekasihnya hingga punggung bidang itu menghilang di balik pintu utama kemudian dia berbalik dan menikmati lagi lukisan yang begitu dikaguminya. Dalam hati sebuah perasaan tidak nyaman mengusiknya. Kenapa ia merasa Awan begitu jauh? Tapi, ia merasa lelah jika harus berperang melawan hatinya sendiri jadi ia memilih untuk mencoba tidak peduli dan terhanyut dalam kehangatan fenomena senja yang dibawa oleh lukisan yang terpampang gagah dihadapannya. Hingga sebuah teguran yang tiba-tiba mengejutkan Wulan yang tengah terhanyut dalam dunianya.
    “9 bulan yang lalu Anda juga tak bergeming di depan lukisan ini bukan?” tegur sebuah suara yang datang demikian tiba-tiba.
    “ah... ya... Benar, bagaimana Anda bisa tahu?” terbata-bata Wulan menjawab pertanyaan tiba-tiba itu.
    “Itu pameran pertama saya dan tak menyangka saya memiliki penggemar,” Wulan mendapati sebuah lesung pipi menghiasi wajah pemuda di hadapannya saat dia tersenyum.
    “Jadi Anda pelukisnya?” tanya Wulan dengan mata membeliak kagum.
    “Begitulah. . .” ujar si pemuda sambil mengedikkan bahu,”Senang melihat penggemar saya datang lagi,” selorohnya.
    “Hahaha . . .begitulah. . . saya benar-benar menyukai lukisan ini,” jawab Wulan kemudian berbalik menatap lukisan itu lagi.
    “Kenapa?” pemuda itu berbalik ikut menikmati.  Beberapa waktu tadi si pemuda cukup terhanyut menikmati keindahan yang begitu sempurna. Kecantikan yang dipadukan dengan keanggunan dan kelembutan. Kecantikan yang terpahat pada seorang gadis yang tampak begitu hanyut dengan dunianya sendiri, seolah mengabaikan sekelilingnya.
    “Karena lukisan ini bertema senja. Saya sangat suka senja. Entah kenapa ada rasa hangat yang terasa kuat saat melihatnya,” terang Wulan, ia berpaling dan tersenyum pada pemuda yang tampak tertegun sambil menatapnya. “Ah. . .maaf, saya jadi banyak bicara,” ucap Wulan tersipu saat menyadari betapa lancar mulutnya ini bicara. Pada orang yang baru dikenal pula.
    “Tak apa,” gumam pemuda misterius ini sambil mengulum sebuah senyum yang entah mengapa begitu memikat di mata Wulan. Sebuah perasaan hangat menyapanya entah dari mana. Muncul tiba-tiba dan membuatnya demikian tertarik pada sosok yang berdiri di sampingnya.
    “Maaf, kita belum berkenalan. Saya Wulan?” Wulan menyodorkan tangannya terlebih dahulu. Tanpa ragu pemuda itu meraih tangan Wulan dan menggenggamnya erat.
    “Senja.” sahut pemuda itu mantap dan penuh percaya diri dengan senyum menawan menghias wajah tampannya. Wulan terhenyak dan terpaku di tempatnya berdiri. Ia tak menyadari tangannya berdiam nyaman dalam genggaman Senja. 
Kedua orang itu sadar bahwa sesuatu yang hangat telah menyapa hati mereka. Satu hal yang tidak mereka sadari adalah sosok yang berdiri di belakang mereka dan terabaikan oleh dunia yang mereka berdua buat sendiri. Sosok yang terasing meski hanya berjarak beberapa jengkal saja. Seperti siang yang berlalu digantikan senja yang datang. Cinta yang membara bagai terik matahari di antara awan yang panas, tergantikan cinta yang lembut bagai senja yang romantis. Senja datang diiringi dengan rembulan yang tampil anggun mempesona. Dengan caranya kehangatan telah menghantarkan Senja untuk Wulan.

***

Elora

Dalam sebuah Kesadaran

Dalam sebuah kesadaran ketika aku merasa ragu-ragu
Memaksa aku masuk ke dalam keadaan setengah sadar
Berlari dari kejaran realita dan memeluk alam mimpi
Jarak yang ternyata tidak terlalu jauh
Membentang hanya seukuran rentangan tangan
Membuat otak malasku berfikir tentang sebuah tujuan
Yang samar dan tampak kabur
Menghadirkan sebuah kesakitan yang indah
Memunculkan berbagai pertanyaan tanpa jawaban
Proses tanpa hasil
Semua karena ketidakyakinan
Sampai akhirnya aku terpaksa tunduk pada kehampaan
Yang mendorongku semakin jauh masuk kedalam ruang hampa udara
Merenggut kumparan waktu yang berjalan tersendat
Seolah berdamai dengan kesendirian
Memang bukan kondisi yang menjadi idaman setiap orang
Namun berada di sini membuatku merasakan apalagi itu rasa


Elora

Mesin Waktu

aku tidak percaya akan mesin waktu
jikapun ada. . .aku tak ingin kembali ke masa lalu
aku ingin waktu buru-buru berlalu
sehingga aku dapat membuat cerita baru
aku tak ingin ada orang yang merakit mesin waktu
aku benci semua orang yang selalu ingin tahu
aku bukan orang yang kaku
aku mencintai sesuatu
saat di mana aku memeluk sang waktu
aku memeluknya dengan sekali rengkuh
berharap ia melupakan tugasnya
dan terbuai dalam pelukanku
aku tak percaya akan mesin waktu
karena aku ingin memeluk waktu
dan aku ingin membuatnya lupa berlalu

Elora

Sang Penguntit Dibalik Lensa

Semua berawal dari bidikan lensa
Seperti seorang penguntit yang suka mengintip
Memilih dari sekian banyak objek
Mencari yang terbaik di antara yang baik
Cintaku berawal dari bidikan lensa
Ketika aku mulai mengaggumi sang penguntit
Gaya luwes bak profesional
Dunia  sekitar seolah terlupakan
Tangan kokoh menopang dengan sigap
Mata penyipit tajam seolah takut kehilangan
Mulut terkunci rapat mendulum emas
Dia bukan penguntit profesional
Kikuk serupa kaku tanpa bumbu luwes
Tapi serius mengabadikan momen
Penguntitku. . .
Jangan kau bingkai aku
Jangan terus menerus mengintaiku dibalik lensa usangmu
Hei. . .adakah aku serupa patung atau tugu ?
Datanglah padaku hei penguntitku
Dan berhenti melihatku selayaknya monumen
Tidakkah aku serupa keindahan alam
Yang menggodamu selayaknya pegunungan
Memikatmu dan mengunci fokusmu

Elora

FACIAL

Seiring berkembangnya waktu dan bertambahnya usia, saya mulai menyadari pentingnya sebuah penampilan bagi seseorang dan khususnya wanita. Jadi, bukan hal yang baru ketika saya mendengar seorang teman yang berteriak kecil sambil memegang tonjolan mungil di area wajah dan berkata,"JERAWAT LAGI!!". Padahal benda yang menurutnya biang segala perasaan buruk itu, selalu mampir di wajahnya setiap bulan sebagai pertanda "tamu" yang ditunggunya sudah dekat.

Mungkin, saya juga salah satu dari sekian wanita yang mengganggap bahwa jerawat adalah "sesuatu" yang sama berbahayanya dengan NARKOBA jika tidak segera diatasi. Maka jadilah saya rela menyisihkan waktu beberapa jam untuk duduk manis di pusat kecantikan terdekat dengan sebuah niat mulia yaitu "facial".

Saat sedang menunggu giliran, saya menyempatkan diri untuk mengamati lingkungan di sekitar tempat saya duduk. Dan, lagi-lagi saya mencoba mendapatkan sesuatu dari kegiatan yang saya lakukan.
(1) Cantik itu perjuangan. Kenapa begitu? Saya amati cukup banyak perempuan berusia dewasa awal yang rela menunggu berjam-jam untuk mendapat giliran. Padahal, saya percaya mereka semua bukan gadis-gadis pengangguran yang punya waktu untuk dibuang-buang. Dan lagi siapa bilang menunggu itu menyenangkan? Mereka berjuang melawan ego mereka masing-masing untuk duduk bersabar menunggu giliran wajah mereka di "tangani". 
Bukan itu saja, yang namanya facial itu sakitnya bukan main. Wajah tidak hanya dipijat relaksasi, di-scrub dan di masker. Tetapi, jerawat kita itu ditucuk menggunakan jarum lalu dipencet-pencet. Belum lagi betapa merah dan bengkaknya wajah kita nanti. Seolah-olah untuk menjadi cantik, kamu harus bersedia merasa sakit terlebih dahulu. Benar-benar wanita tangguh.
(2) Cantik itu mahal. Ehem....berkaitan dengan finansial ala mahasiswa kos-kosan yang baru belajar jadi freelancer...yang namanya facial itu masih barang mewah. Jadi, bagi saya pribadi harus berani mengencangkan ikat pinggang untuk menyisihkan kemewahan yang satu ini.
(3) Cantik itu proses. Setelah muka kita dipencet-pencet, ditusuk-tusuk, dan diurut sana-sini, bukan serta merta "TARA!!!" kita cantik. Tetapi wajah kita akan membengkak selama beberapa waktu baru deh hasilnya akan nampak. Bukan langsung menjadi cantik, melainkan menjadi bersih dan terawat. Jadi kalau tidak diikuti oleh hidup sehat setelahnya maka akan sangat sia-sia perjuangan dan biaya yang kita keluarkan.

Hhhh....Lepas dari ini semua, saya sendiri setuju dengan istilah bahwa Cantik yang utama itu adalah cantik yang berasal dari hati. Karena, sangat disayangkan jika kecantikan fisik itu tidak berbanding lurus dengan kecantikan hati. Akan tetapi, akan sangat luar biasa jika kecantikan hati itu dibarengi dengan kecantikan fisik. Cantik fisik itu bukan berarti harus sekelas dengan artis-artis papan atas. Akan tetapi, cukup dengan menjaga, merawat dan membersihkan karya Tuhan indah di tubuh kita. Saya pikir, Tuhan akan sangat senang kalau kita menjaga dengan baik karunia-Nya. Setuju???? Mari berproses....

Elora

Kamis, 19 April 2012

Buah Naga Merah nan "Unyu"



Sekitar 1 bulan belakangan, saya sedang rajin mengkonsumsi buah naga merah. Berawal dari anjuran Ibu yang mengatakan kalau buah yang satu ini sangat baik untuk dikonsumsi karena mengandung banyak anti oksidan. Awalnya, saya sempat bingung bagaimana caranya mengkonsumsi buah yang saya kira kaktus ini. Eh ternyata... cukup dibelek saja. Gitu aja kok repot.

Saya memang merasakan manfaat  langsung ketika mengkonsumsi buah yang satu ini. Badan rasanya lebih segar, Karena, selama saya rajin mengkonsumsi buah yang satu ini jadwal B.A.B saya menjadi cukup teratur. 

Yang unik adalah kotoran yang kita keluarkan ternyata berubah menjadi berwarna ungu. (Maaf, saya yakin ini terdengar sedikit menjijikkan) Tapi awalnya saya sempat syok lho. . . . sampai akhirnya saya merasa geli dan menamainya buah unyu-unyu karena membuat keunyuan dalam proses pencernaan saya.

Berikut hasil browsing saya mengenai si buah unyu-unyu:
1. Buah naga adalah sumber antioksidan yang baik, mencegah radikal bebas dan melindungi dari menyebabkan kanker.

2. Membantu menetralkan zat-zat beracun seperti logam berat yang ada dalam tubuh. Selain itu, mengkonsumsi buah naga dapat mengurangi tekanan darah tinggi dan kadar kolesterol.

3. Buah Naga Mengandung Vitamin C dengan kadar yang tinggi. hal ini dapat membantu meningkatkan kekebalan tubuh anda.

4. Vitamin B2 hadir dalam buah naga bertindak seperti multivitamin dan membantu untuk memperbaiki dan memulihkan hilangnya nafsu makan.

5. Vitamin B1 dalam buah ini membantu dalam meningkatkan produksi energi dan juga dalam metabolisme karbohidrat.

6. Dengan mengkonsumsi Buah Naga secara teratur dan rutin dapat membantu menurunkan berat badan dan mengecilkan perut tentunya hal ini juga harus diimbangi dengan olahraga yang teratur.


Nah....dengan manfaat yang cukup banyak ini, tidak salahnya kalau anda sekalian mulai mencoba. Bosan dengan buah yang biasa saja? Buah Naga tentu dapat menjadi alternatif pilihan. Rasanya yang unik layak sekali untuk dicoba. Apalagi, kalian akan merasakan keunyuan buah yang satu ini pada proses pencernaan  anda. Selamat mencoba !!!!

Elora

Rabu, 18 April 2012

Ternyata eh ternyata # 1

Beberapa waktu ini, saya mengalami sebuah pengalaman kecil yang mungkin bagi sebagian orang biasa namun bagi saya pengalaman tersebut saja bisa disebut "mukjizat kecil". Punya tubuh ringkih memang bukan cerita yang asing masuk ke telinga saya. Tetapi pengalaman demam yang baru saja saya alami terasa sedikit berkesan dan tampaknya tidak terlupakan. Saya merasakan bahwa mukjizat itu nyata (jadi ingat sepenggal lirik lagu rohani).

Beberapa waktu kemarin saya dihadapkan pada masa-masa ujian MID semester. Lain dari ujian mid yang biasa tidak terjadwal di fakultas saya, semester ini fakultas membuat kebijakan untuk melakukan ujian secara terjadwal. Dan dimulailah hari-hari "indah" nan "khusyuk" untuk menyiapkan ujian tersebut. 

Pada kesempatan yang bersamaan, saya mendapat tugas yang sangat menyenangkan untuk menjaga sebuah rumah yang ditinggalkan beberapa penghuninya milik teman dekat. Sebisa mungkin saya membantu untuk membersihkan dan membereskan rumah. Meski tidak saya pungkiri kalau ternyata banyak juga waktu yang saya habiskan untuk tidur dan nonton TV. Lagi pula, sebuah rumah yang bagi saya lebih mirip vila nyaman di daerah Papringan no. 24 ini memang sudah sangat terawat jadi tugas saya hanya sedikit menyapu  dan menyiram tanaman.

 Sampai pada suatu pagi di bulan April 2012, saya terbangun dengan tubuh yang sangat berat. Ketika saya bangun, saya merasa tenggorokan saya kering bukan main. Saya terbiasa menyediakan segelas air putih di samping tempat tidur saya. Tetapi rupanya, meneguk segelas itu saja tidak cukup. Hari itu sudah ketiga kalinya saya terbangun untuk "menabung dan bertapa" di kamar mandi. Rasanya tubuh ini lemas. Saya mencoba tidak menghiraukan nyeri tubuh saya dan kembali ke kamar.

Untuk mengabaikan rasa sakit kepala dan perut yang datang bersamaan, saya mencoba membuka modul untuk bahan ujian saya hari itu. meski akhirnya modul itu hanya berakhir sebagai teman saya di kamar mandi. 

Saya ingat betul hari itu saya harus ujian jam setengah satu siang. Tidak lama setelah saya selesai mandi, mata saya mengeluarkan air mata seperti menangis. Tapi saya tidak menangis, hanya saja bagian dalam tubuh saya terasa panas sekali rasanya. Kepalang tanggung akhirnya saya menangis sungguhan. Alasannya kekanakkan sekali, 1) Saya harus ujian tapi malah sakit, 2) Saya sakit dan saya sendirian (benar-benar pandir padahal, berapa banyak penduduk Yogyakarta...masih berani saya bilang saya sendirian). Satu jam lamanya saya berkutat dengan pilihan antara ijin untuk tidak ikut ujian dengan konsekuensi akan ada serentetan birokrasi yang harus saya tempuh untuk meminta susulan atau tetap mengikuti ujian dengan konsekuensi saya tidak maksimal. Dan setelah reda tangis saya, akhirnya saya memilih pilihan yang kedua.

Karena tidak yakin harus mengendarai motor sendiri, akhirnya calon adik yang tidak lain dan tidak bukan adalah pemilik rumah yang saya temani itu berbaik hati mengantarkan saya ke kampus. Dengan bijak dia berpesan untuk mengirimnya pesan ketika saya sudah siap dijemput. Dengan senang hati saya jawab ya.

Ternyata eh ternyata, saya keliru dalam membuat strategi. Prediksi saya tidak meleset, saya benar-benar tidak optimal. Pelajaran berharga yang saya peroleh secara instan adalah jangan pernah memilih untuk mengikuti ujian saat anda mengalami diare. Alasannya, 1) konsentrasi pasti terpecah, 2) perasaan serba salah akan sangat dominan (terlalu banyak keluar masuk kelas dapat memicu fitnah) dan 3) menahan buang air dan kentut adalah tindakan tercela.

Sebenarnya ujian saat itu tergolong menyenangkan karena "open book". Tapi fisik saya yang terganggu, memporak-porandakan fungsi otak dan mekanisme kerja tubuh saya. Di saat teman-teman lain khusyuk mencari jawaban di dalam buku, saya justru semakin religius dengan khusyuk berdoa agar saya tidak kelepasan buang angin beserta ampas karena perut yang semakin bergelora. Jadilah tercatat dalam sejarah, ujian essay dikerjakan dalam waktu 20 menit dengan tulisan ala dokter yang lebih mirip cakar ayam di mata saya. 

Ujian saya hari itu hanya terdiri dari dua soal. Tetapi diikuti dengan buntut yang luar biasa banyaknya. Ketika akan mencoba menjawab soal kedua, mendadak saya merasa pandangan saya berkunang-kunang dan itu menjadi alarm saya kalau saya akan pingsan. Saat itu yang terlintas dalam benak saya adalah betapa dramatis jika seorang mahasiswi ditemukan tergeletak pingsan saat mengerjakan ujian. Saya tidak ingin muncul fitnah bahwa saya terlalu serius dalam mempersiapkan ujian. Akhirnya tanpa pikir panjang saya memutuskan untuk segera mengumpulkan lembar ujian dan berjalan keluar ruangan dengan tetap setegak mungkin.

Setelah itu saya mengeluarkan ponsel dan mencoba menghubungi sebuah armada taksi. Saya menyebutkan lokasi saya menunggu dan meminta pada operator untuk segera mengirimkan sebuah taksi bagi saya. Taksi bertuliskan angka 373737 itu memang benar-benar muncul  di hadapan saya kurang dari 30 menit Sangat profesional. Kepada pak sopir yang membawa taksi tersebut saya hanya bilang," Pak UGD, Panti Rapih." 

Tanpa banyak cakap, sang bapak baik hati itu melajukan mobilnya dengan lincah membelah kota Yogyakarta yang panas. Saya berbaring di bangku panjang di belakang sopir dan mencoba merogoh tas saya mencari dompet lalu menggenggam selembar uang berwarna biru di tangan saya yang basah. Dan saat itu saya dengan lugu teringat, bahwa saya tidak memiliki uang cash. Tanpa pikir panjang, saya langsung menelepon sebuah nama seorang kenalan dengan kalimat kurang lebih begini, "Mas...aku di dalam taksi, sakit, mau ke UGD, nggak bawa uang...tolong..." --> untungnya sosok yang aku telepon paham dengan bahasa semrawut yang saya ucapkan.

Sesampainya di rumah sakit. Puji Tuhan saya langsung ditangani. Saya malu digendong satpam untuk naik ke kasur dorong. akhirnya saya memutuskan untuk sedikit membuka mata dan naik ke atas kasur itu sendiri.

Dari cerita panjang lebar ini, sebenarnya...mukjizat yang saya maksud adalah bahwa ternyata saya bisa ujian dan pergi ke UGD sendirian dengan suhu tubuh yang ternyata 38,5 derajat celcius. Dan yang kedua, saya menemukan sopir taksi yang budiman, ketika beliau menarik uang lima puluh ribu yang saya genggam, ternyata dia juga menyelipkan uang dua puluh ribu sebagai  kembaliannya. Dia tidak memanfaatkan kelemahan orang lain. Selain itu, di saat maraknya pemberitaan perkosaan dalam kendaraan umum... Puji Tuhan saya dilindungi sehingga selama perjalanan tidak terjadi apa-apa. Dan yang terakhir, dewa dan dewi penolong datang untuk membantu saya melunasi semua biaya administrasi. 

Luar biasa...hari itu juga saya mempercayai bahwa Tuhan benar-benar mampu menciptakan sebuah mukjizat dan ternyata sebuah mukjizat itu bukan hanya berasal dari peristiwa-peristiwa besar, melainkan juga peristiwa sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Sejak saat itu, saya memperoleh sebuah pemahaman religius bahwa selalu ada pertolongan bagi mereka yang percaya bahwa pertolongan itu akan datang...entah bagaimana caranya. Saya salah kalau saya merasa sendiri...karena saya ditemani oleh malaikat-malaikat Tuhan yang tidak bersayap. 

#Edisi Religius

Elora

Minggu, 15 April 2012

Awal yang indah

10 Desember 2010
Pagelaran sendratari "Jaka Parut dan 7 Bidadari"


Selamat Datang Cinta

Dalam sebuah keyakinan yang membungkus mimpi
Dalam sebuah kesadaran yang membungkus khayalan
Dalam sebuah kenyataan yang membungkus harapan
Dalam sebuah keakuan yang membalut kita
Aku berdiri pada sebuah kenangan
Berjalan dalam sebuah memori
Dan berangkat dari keteguhan
Berbekal pada keberanian dan ketulusan
Bukan kamu yang menjadi tujuan
Bukan juga dia, mereka atau bahkan kalian
Hanya ada aku
Aku yang menjadi tujuan
Sebuah egoisme yang menjadi harapan sekaligus impian
Berdiri dengan timpang
Sampai akhirnya aku menemukan penyeimbang
Menjadikan hidupku yang berat sebelah
Menjadi sama rata dan sama rasa
Mungkin bukan saat ini
Bukan juga besok atau lusa
Tapi suatu saat nanti
Ketika tiba masa
Masa di mana dengan gagah berani aku akan berucap tentang
Kebahagiaan. . . . .
Selamat datang cinta 

Elora

Pancake



Pancake adalah kue dadar yang dibuat dari terigu, telur ayam, gula dan susu. Terbuat dari bahan-bahan yang dicampur dengan air membentuk adonan kental yang digoreng di atas wajan datar yang diolesi sedikit minyak.

Setelah matang, pancake bisa dihidangkan sewaktu masih hangat atau setelah dingin. Tetapi untuk saya pribadi, kue yang satu ini paling enak disantap saat masih hangat, karena teksturnya yang masih legit. Hmmm...yummy!!!!!!!!!!! Biasanya untuk menyantap kue yang satu ini saya akan menambahkan selai blueberry atau coklat sebagai topingnya.Tetapi untuk topingnya sebenarnya itu selera masing-masing orang.

Adonan pancake biasanya merupakan campuran bahan pengembang seperti baking powder, soda kue, ragi, bir, atau kocokan putih telur. Pancake yang enak biasanya adalah pancake yang "ringan" karena berisi udara yang terperangkap di dalam adonan. Adonan juga sebaiknya tidak terlalu banyak diaduk agar kue tidak keras. Sewaktu menuangkan adonan, wajan yang sudah panas diletakkan atas handuk atau kain basah. Suhu permukaan wajan menjadi turun, dan bagian bawah panekuk setelah matang menjadi berwarna kuning keemasan. Sebagai pengganti susu, adonan bisa menggunakan buttermilk, yogurt, atau susu kedelai. Demikian sekilas info tentang proses pembuatan pancake.

Sejak pertama kali mengenal jenis kue yang 1 ini sekitar 4 tahun yang lalu, entah kenapa saya langsung jatuh cinta. Mulai dari saat itu hingga sekarang, saya masih berusaha mencoba untuk membuatnya sendiri (saya pikir ini jauh lebih menantang dan hemat). Saya rasa pasti akan sangat menyenangkan ketika kita bisa memasak makanan favorit kita.
Disela-sela 'pergulatan' saya belajar membuat pancake, saya menemukan bahwa yang namanya hidup terkadang bisa seperti proses membuat pancake. Seringkali kita mengeluh kalau kita sudah tidak mampu untuk bersabar. Atau malah mengaku-ngaku kalau sabar tetapi terus menerus mengeluh dengan mengatakan pada semua orang yang berpapasan dengan kalimat pembuka,"aku nih kurang sabar kaya gimana lagi coba?". Ini yang disebut kesabaran terselubung.

Kita (termasuk saya sendiri) terkadang melupakan bahwa yang namanya sabar itu sebuah proses yang harus dihadapi terus-menerus. Tidak bisa kalau hanya dilakukan sekali atau dua kali saja dan langsung berhasil.

Seperti halnya pancake yang terlihat sederhana tapi tidak mudah dibuat, begitu pun kesabaran yang terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari kita tetapi tidak mudah juga untuk direalisasikan. Dalam Agama yang Ibu saya ajarkan, kesabaran itu 7 x 7 x 7 singkatnya tidak terbatas. Bicara mudah tapi bukan berarti prakteknya sangat berat. Oleh karena itu. . . Mari berpantang menyerah, untuk hasilnya yang legit  dan manis seperti pancake. (Sugesti positif untuk diri sendiri)
Elora

Sabtu, 14 April 2012

Sisi koin yang lain



Koin memiliki dua sisi yang berbeda dan saling bertolak belakang. Meskipun begitu, mereka tetap merupakan suatu kesatuan yang tidak akan terpisahkan. Sebuah koin tidak akan berharga jika ia hanya memiliki satu sisi saja. Oleh sebab itu, kedua sisi itu saling membutuhkan satu sama lain agar mereka berharga, memiliki nilai, dan utuh.

Seperti sepasang kekasih. Masing-masing dari mereka memiliki perbedaan yang tidak dapat dihindari karena mereka memang berasal dan tumbuh dari dunia yang berbeda satu sama lain. Meskipun dua dunia mereka berbeda dan bertentangan, pada akhirnya kebersamaan mereka membuat mereka utuh dan berharga. 

Seperti sisi koin....perasaanku sekarang seperti salah satu dari sisi koin.

Elora

Karya Tulis Ilmiah

Pada suatu sore,aku sedang bercengkrama bersama ibu. Beliau bertanya kenapa semalam aku menangis,sedikit ragu aku bilang ke ibu kalau aku ingat seseorang dari masa laluku yang membuat aku mendadak merasa rindu dan karena tidak bisa melakukan apa-apa akhirnya aku menangis (kebiasaan buruk yang selalu aku lakukan untuk menetralisir perasaan setiap hatiku sedang nano-nano).
Ibu hanya tersenyum bijak (dibaca: senyum basa-basi), kemudian membenarkan posisi duduknya. Beliau mencari posisi yang nyaman dan kemudian mulai sesi ceramah. Kurang lebih begini isinya:

"Cantik... (hehehe....yg ini ngarang)
yang namanya pacaran itu seperti Bab Pendahuluan dalam Karya Ilmiah."

Mendengar kata pacaran dianalogikan dengan Bab Pendahuluan aku sempat "heran", jangan-jangan ibu mengigau. Di mana miripnya pacaran sama bab pendahuluan? Meskipun bingung,  aku berusaha untuk tetap mendengarkan dan menelan keherananku di hati.

"Seperti Bab Pendahuluan yang mengawali sebuah karya ilmiah, pacaran juga merupakan awalan sebuah kehidupan baru. Sama halnya dalam Bab Pendahuluan, saat pacaran di sana ada latar belakang kedua belah pihak yang menjadi subjek (tentang keluarga,pendidikan,sifat,watak,dkk), pendekatan apa yang akan digunakan dalam prosesnya,metode apa yang akan digunakan dalam prosesnya, apa tujuan dari hubungan yang sedang kita jalani,lalu apa referensi yang akan kita gunakan dalam menjalani hubungan."

Sejenak aku terpana dengan penjelasan ibu. Selanjutnya, aku pikir ibu sungguh-sungguh jenius. Entah bagaimana sampai akhirnya karya tulis itu bisa dianalogikan dengan pacaran tetapi yang jelas ini sangat "unik". Ternyata, pacaran tidak semudah yang aku pikir tetapi tidak seabstrak yang aku bayangkan. Karena pacaran seperti Bab Pendahuluan dalam karya tulis ilmiah. Semua jelas dan siapa saja bisa membuat..

pertanyaan selanjutnya,jika sudah selesai Bab Pendahuluan,,,Bab apa selanjtnya????
(ibuku memang luar biasa....)

Elora

Melihat dunia baru



Melihat dari kacamata lain yang bukan berasal dari diri kita sendiri terkadang menjadi sesuatu yang tidak mudah.....


Elora

Darah dan Air

      Orang bilang darah lebih kental dari air, tapi salah satu minuman isotonik menyatakan bahwa 75% bagian tubuh manusia terdiri dari air. Saya tidak bilang kalau air lebih penting dari darah atau sebaliknya. Karena baik air maupun darah saya pikir memiliki peran masing-masing bagi tubuh kita dan keberadaan mereka sama pentingnya. Tanpa keduanya, manusia sepertinya hanya akan menjadi susunan tulang yang ditempeli lemak-lemak tak jenuh di beberapa tempat strategis dan sedikit daging segar. Tidak akan ada semu merah yang menghiasi pipi karena adanya aliran darah yang mengalir. Dan juga tidak akan ada rona wajah segar karena terhindar dari dehidrasi. Darah dan air...keduanya saya suka...saya butuh...
     Yogyakarta...kurang lebih 3 tahun lamanya saya disini, membuat kota ini ibarat "air" dalam kehidupan saya. Saya lahir di sebuah kota kecil di pinggiran Propinsi Jawa Tengah yang menempuh  5 jam  lamanya ke arah Barat. Bukan merupakan salah satu kota metropolis yang sibuk melainkan sebuah kota kecil yang dengan keunikannya selalu bisa mengundang para khalayak sibuk untuk singgah meski hanya mencicipi semangkuk soto "Jalan Bank" atau soto "Sokaraja". Dan kota inilah yang sudah mendarah daging dalam diri saya karena. Meskipun saya sering diragukan karena kehilangan  logat "ke-ngapak-an" yang demikian khas dan unik.
      Beberapa orang ragu tentang 'Bagaimana saya kehilangan logat indah itu?'. Sebagian besar mengira saya malu, yang lain mengira saya mengaku-ngaku berasal dari kota itu, dan sebagian yang lain memutuskan untuk tidak berkomentar apa-apa. Tetapi yang sesungguhnya, saya kehilangan logat membanggakan itu sebagai hasil proses salah asuhan ibunda saya yang tercinta, yang dengan uletnya membiasakan "berbahasa Indonesia yang baik dan benar" kepada saya sejak dini. Itu lah...mengapa akhirnya saya kehilangan logat khas yang selalu saya banggakan. Lagi-lagi masalah K.E.B.I.A.S.A.A.N.  Meskipun demikian beberapa teman mengaku, ada masa mereka yang beruntung mendengar saya berbicara dengan logat marah. Beberapa momen yang mengikuti kemunculan logat saya adalah ketika saya lepas kendali karena marah, lelah dan bertemu dengan komunitas ngapak yang aktif.
     Tetapi jangan sekali-kali meragukan kecintaan saya kepada kota kelahiran saya yang satu ini, bukti konkretnya adalah meski sudah 6 tahun saya merantau...tidak pernah sedikitpun saya merasa tidak pernah rindu.
     Tidak berbeda jauh dengan kota kelahiran saya, saya mencintai kota Yogyakarta selayaknya saya mencintai kota kelahiran saya ini. Saya menncintai makanan khas-nya, tempat-tempat wisata yang beraneka ragam dan unik, serta saya mencintai cara kota ini berkembang dengan segala tradisi yang tak pernah ditinggalkannya. Dari kota ini, saya mempelajari banyak hal tidak hanya secara akademik (seperti yang kita ketahui semboyannya "Yogya kota pelajar") tetapi juga tentang kehidupan. Di sini saya hidup...di sini saya punya banyak cerita... dan di sini...saya melihat dunia.
Elora