Rabu, 18 April 2012

Ternyata eh ternyata # 1

Beberapa waktu ini, saya mengalami sebuah pengalaman kecil yang mungkin bagi sebagian orang biasa namun bagi saya pengalaman tersebut saja bisa disebut "mukjizat kecil". Punya tubuh ringkih memang bukan cerita yang asing masuk ke telinga saya. Tetapi pengalaman demam yang baru saja saya alami terasa sedikit berkesan dan tampaknya tidak terlupakan. Saya merasakan bahwa mukjizat itu nyata (jadi ingat sepenggal lirik lagu rohani).

Beberapa waktu kemarin saya dihadapkan pada masa-masa ujian MID semester. Lain dari ujian mid yang biasa tidak terjadwal di fakultas saya, semester ini fakultas membuat kebijakan untuk melakukan ujian secara terjadwal. Dan dimulailah hari-hari "indah" nan "khusyuk" untuk menyiapkan ujian tersebut. 

Pada kesempatan yang bersamaan, saya mendapat tugas yang sangat menyenangkan untuk menjaga sebuah rumah yang ditinggalkan beberapa penghuninya milik teman dekat. Sebisa mungkin saya membantu untuk membersihkan dan membereskan rumah. Meski tidak saya pungkiri kalau ternyata banyak juga waktu yang saya habiskan untuk tidur dan nonton TV. Lagi pula, sebuah rumah yang bagi saya lebih mirip vila nyaman di daerah Papringan no. 24 ini memang sudah sangat terawat jadi tugas saya hanya sedikit menyapu  dan menyiram tanaman.

 Sampai pada suatu pagi di bulan April 2012, saya terbangun dengan tubuh yang sangat berat. Ketika saya bangun, saya merasa tenggorokan saya kering bukan main. Saya terbiasa menyediakan segelas air putih di samping tempat tidur saya. Tetapi rupanya, meneguk segelas itu saja tidak cukup. Hari itu sudah ketiga kalinya saya terbangun untuk "menabung dan bertapa" di kamar mandi. Rasanya tubuh ini lemas. Saya mencoba tidak menghiraukan nyeri tubuh saya dan kembali ke kamar.

Untuk mengabaikan rasa sakit kepala dan perut yang datang bersamaan, saya mencoba membuka modul untuk bahan ujian saya hari itu. meski akhirnya modul itu hanya berakhir sebagai teman saya di kamar mandi. 

Saya ingat betul hari itu saya harus ujian jam setengah satu siang. Tidak lama setelah saya selesai mandi, mata saya mengeluarkan air mata seperti menangis. Tapi saya tidak menangis, hanya saja bagian dalam tubuh saya terasa panas sekali rasanya. Kepalang tanggung akhirnya saya menangis sungguhan. Alasannya kekanakkan sekali, 1) Saya harus ujian tapi malah sakit, 2) Saya sakit dan saya sendirian (benar-benar pandir padahal, berapa banyak penduduk Yogyakarta...masih berani saya bilang saya sendirian). Satu jam lamanya saya berkutat dengan pilihan antara ijin untuk tidak ikut ujian dengan konsekuensi akan ada serentetan birokrasi yang harus saya tempuh untuk meminta susulan atau tetap mengikuti ujian dengan konsekuensi saya tidak maksimal. Dan setelah reda tangis saya, akhirnya saya memilih pilihan yang kedua.

Karena tidak yakin harus mengendarai motor sendiri, akhirnya calon adik yang tidak lain dan tidak bukan adalah pemilik rumah yang saya temani itu berbaik hati mengantarkan saya ke kampus. Dengan bijak dia berpesan untuk mengirimnya pesan ketika saya sudah siap dijemput. Dengan senang hati saya jawab ya.

Ternyata eh ternyata, saya keliru dalam membuat strategi. Prediksi saya tidak meleset, saya benar-benar tidak optimal. Pelajaran berharga yang saya peroleh secara instan adalah jangan pernah memilih untuk mengikuti ujian saat anda mengalami diare. Alasannya, 1) konsentrasi pasti terpecah, 2) perasaan serba salah akan sangat dominan (terlalu banyak keluar masuk kelas dapat memicu fitnah) dan 3) menahan buang air dan kentut adalah tindakan tercela.

Sebenarnya ujian saat itu tergolong menyenangkan karena "open book". Tapi fisik saya yang terganggu, memporak-porandakan fungsi otak dan mekanisme kerja tubuh saya. Di saat teman-teman lain khusyuk mencari jawaban di dalam buku, saya justru semakin religius dengan khusyuk berdoa agar saya tidak kelepasan buang angin beserta ampas karena perut yang semakin bergelora. Jadilah tercatat dalam sejarah, ujian essay dikerjakan dalam waktu 20 menit dengan tulisan ala dokter yang lebih mirip cakar ayam di mata saya. 

Ujian saya hari itu hanya terdiri dari dua soal. Tetapi diikuti dengan buntut yang luar biasa banyaknya. Ketika akan mencoba menjawab soal kedua, mendadak saya merasa pandangan saya berkunang-kunang dan itu menjadi alarm saya kalau saya akan pingsan. Saat itu yang terlintas dalam benak saya adalah betapa dramatis jika seorang mahasiswi ditemukan tergeletak pingsan saat mengerjakan ujian. Saya tidak ingin muncul fitnah bahwa saya terlalu serius dalam mempersiapkan ujian. Akhirnya tanpa pikir panjang saya memutuskan untuk segera mengumpulkan lembar ujian dan berjalan keluar ruangan dengan tetap setegak mungkin.

Setelah itu saya mengeluarkan ponsel dan mencoba menghubungi sebuah armada taksi. Saya menyebutkan lokasi saya menunggu dan meminta pada operator untuk segera mengirimkan sebuah taksi bagi saya. Taksi bertuliskan angka 373737 itu memang benar-benar muncul  di hadapan saya kurang dari 30 menit Sangat profesional. Kepada pak sopir yang membawa taksi tersebut saya hanya bilang," Pak UGD, Panti Rapih." 

Tanpa banyak cakap, sang bapak baik hati itu melajukan mobilnya dengan lincah membelah kota Yogyakarta yang panas. Saya berbaring di bangku panjang di belakang sopir dan mencoba merogoh tas saya mencari dompet lalu menggenggam selembar uang berwarna biru di tangan saya yang basah. Dan saat itu saya dengan lugu teringat, bahwa saya tidak memiliki uang cash. Tanpa pikir panjang, saya langsung menelepon sebuah nama seorang kenalan dengan kalimat kurang lebih begini, "Mas...aku di dalam taksi, sakit, mau ke UGD, nggak bawa uang...tolong..." --> untungnya sosok yang aku telepon paham dengan bahasa semrawut yang saya ucapkan.

Sesampainya di rumah sakit. Puji Tuhan saya langsung ditangani. Saya malu digendong satpam untuk naik ke kasur dorong. akhirnya saya memutuskan untuk sedikit membuka mata dan naik ke atas kasur itu sendiri.

Dari cerita panjang lebar ini, sebenarnya...mukjizat yang saya maksud adalah bahwa ternyata saya bisa ujian dan pergi ke UGD sendirian dengan suhu tubuh yang ternyata 38,5 derajat celcius. Dan yang kedua, saya menemukan sopir taksi yang budiman, ketika beliau menarik uang lima puluh ribu yang saya genggam, ternyata dia juga menyelipkan uang dua puluh ribu sebagai  kembaliannya. Dia tidak memanfaatkan kelemahan orang lain. Selain itu, di saat maraknya pemberitaan perkosaan dalam kendaraan umum... Puji Tuhan saya dilindungi sehingga selama perjalanan tidak terjadi apa-apa. Dan yang terakhir, dewa dan dewi penolong datang untuk membantu saya melunasi semua biaya administrasi. 

Luar biasa...hari itu juga saya mempercayai bahwa Tuhan benar-benar mampu menciptakan sebuah mukjizat dan ternyata sebuah mukjizat itu bukan hanya berasal dari peristiwa-peristiwa besar, melainkan juga peristiwa sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Sejak saat itu, saya memperoleh sebuah pemahaman religius bahwa selalu ada pertolongan bagi mereka yang percaya bahwa pertolongan itu akan datang...entah bagaimana caranya. Saya salah kalau saya merasa sendiri...karena saya ditemani oleh malaikat-malaikat Tuhan yang tidak bersayap. 

#Edisi Religius

Elora

Tidak ada komentar:

Posting Komentar