Sabtu, 14 April 2012

Darah dan Air

      Orang bilang darah lebih kental dari air, tapi salah satu minuman isotonik menyatakan bahwa 75% bagian tubuh manusia terdiri dari air. Saya tidak bilang kalau air lebih penting dari darah atau sebaliknya. Karena baik air maupun darah saya pikir memiliki peran masing-masing bagi tubuh kita dan keberadaan mereka sama pentingnya. Tanpa keduanya, manusia sepertinya hanya akan menjadi susunan tulang yang ditempeli lemak-lemak tak jenuh di beberapa tempat strategis dan sedikit daging segar. Tidak akan ada semu merah yang menghiasi pipi karena adanya aliran darah yang mengalir. Dan juga tidak akan ada rona wajah segar karena terhindar dari dehidrasi. Darah dan air...keduanya saya suka...saya butuh...
     Yogyakarta...kurang lebih 3 tahun lamanya saya disini, membuat kota ini ibarat "air" dalam kehidupan saya. Saya lahir di sebuah kota kecil di pinggiran Propinsi Jawa Tengah yang menempuh  5 jam  lamanya ke arah Barat. Bukan merupakan salah satu kota metropolis yang sibuk melainkan sebuah kota kecil yang dengan keunikannya selalu bisa mengundang para khalayak sibuk untuk singgah meski hanya mencicipi semangkuk soto "Jalan Bank" atau soto "Sokaraja". Dan kota inilah yang sudah mendarah daging dalam diri saya karena. Meskipun saya sering diragukan karena kehilangan  logat "ke-ngapak-an" yang demikian khas dan unik.
      Beberapa orang ragu tentang 'Bagaimana saya kehilangan logat indah itu?'. Sebagian besar mengira saya malu, yang lain mengira saya mengaku-ngaku berasal dari kota itu, dan sebagian yang lain memutuskan untuk tidak berkomentar apa-apa. Tetapi yang sesungguhnya, saya kehilangan logat membanggakan itu sebagai hasil proses salah asuhan ibunda saya yang tercinta, yang dengan uletnya membiasakan "berbahasa Indonesia yang baik dan benar" kepada saya sejak dini. Itu lah...mengapa akhirnya saya kehilangan logat khas yang selalu saya banggakan. Lagi-lagi masalah K.E.B.I.A.S.A.A.N.  Meskipun demikian beberapa teman mengaku, ada masa mereka yang beruntung mendengar saya berbicara dengan logat marah. Beberapa momen yang mengikuti kemunculan logat saya adalah ketika saya lepas kendali karena marah, lelah dan bertemu dengan komunitas ngapak yang aktif.
     Tetapi jangan sekali-kali meragukan kecintaan saya kepada kota kelahiran saya yang satu ini, bukti konkretnya adalah meski sudah 6 tahun saya merantau...tidak pernah sedikitpun saya merasa tidak pernah rindu.
     Tidak berbeda jauh dengan kota kelahiran saya, saya mencintai kota Yogyakarta selayaknya saya mencintai kota kelahiran saya ini. Saya menncintai makanan khas-nya, tempat-tempat wisata yang beraneka ragam dan unik, serta saya mencintai cara kota ini berkembang dengan segala tradisi yang tak pernah ditinggalkannya. Dari kota ini, saya mempelajari banyak hal tidak hanya secara akademik (seperti yang kita ketahui semboyannya "Yogya kota pelajar") tetapi juga tentang kehidupan. Di sini saya hidup...di sini saya punya banyak cerita... dan di sini...saya melihat dunia.
Elora

Tidak ada komentar:

Posting Komentar