Kamis, 26 April 2012

Senja untuk Wulan

    Selalu ada kehangatan yang menyapa hati setiap kali melihat semburat jingga dikala senja. Bagi Wulan, senja menghadirkan sensasi yang romantis, hangat dan teduh. Kota akan mulai dipenuhi cahaya lampu. Matahari yang selalu tampil gagah bersiap untuk digantikan kerlip bintang yang bertaburan atau rembulan yang bersinar lembut. Jika senja datang Wulan akan duduk di beranda kamarnya dengan ditemani secangkir teh manis hangat, kemudian menikmati senja yang hanya berlangsung sekitar beberapa menit saja. Memanjakan matanya untuk melihat gradasi warna di langit yang biasanya didominasi warna biru atau putih. Seperti saat ini, saat kesibukan telah berlalu dari sisinya dan menyisakan sedikit waktu untuknya beristirahat.
    Wulan menyesap tehnya perlahan, membiarkan kehangatan dan rasa manis memanjakan lidah dan tenggorokannya. Namun tak berapa lama ia mendapati layar ponselnya berpendar menampilkan sebuah nama yang dikenalnya. Dengan hati-hati Wulan meletakkan cangkirnya dan meraih ponsel yang tak henti-hentinya berpendar menuntut perhatian.
    “Ada apa Wan?” sapa Wulan begitu memulai pembicaraan. Jawaban orang di seberang sana membuat wajah Wulan dihiasi sebuah senyum.
    “Maaf wan, sehari ini aku sibuk.”
    “Iya, nggak apa. Baru pulang kah ?”
    Bla. . .bla. . .bla. . . dan pembicaraan mengalir di antara sepasang kekasih yang dipeluk rindu itu. Percakapan menjadi tali panjang tak terputus membuat Wulan tak menyadari senja yang telah menghilang di ujung cakrawala dan malam telah datang menggantikannya.
Berbeda dari kecintaan Wulan pada senja, baginya Awan adalah cintanya yang kedua. Seperti senja, Awan juga mampu menghadirkan kehangatan dan kenyamanan. Namun lebih nyata, karena sosok Awan dapat disentuhnya. Meski demikian bersama dengan kekasihnya itu Wulan seringkali merasa ada batas tak kasat mata di antara mereka. Batas yang ia sendiri tak begitu faham. Batasan yang tak pernah ada saat ia mengagumi senja.

***
    Wulan bertemu Awan setahun yang lalu dalam sebuah pameran lukisan. Puluhan atau mungkin ratusan lukisan pilihan memenuhi dinding gedung seni yang terletak di pusat kota waktu itu. Wulan bukan penikmat seni yang baik. Alasan ia akhirnya bersedia menuruti permintaan Lintang datang ke pameran itu hanya satu yaitu sebuah lukisan. Berbekal keahliannya dalam bidang marketing, Lintang meyakinkan Wulan jika temuannya tak akan mengecewakan. Lintang bahkan berani bertaruh lukisan itu akan menjadi gerbang awal sahabatnya menyukai seni.
 Wulan tak memungkiri bahwa sahabatnya benar. Lukisan itu langsung membuatnya jatuh cinta sehingga membuatnya rela berdiri berjam-jam memandanginya. Lintang hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya itu. Ia senang karena akhirnya bisa menyeret Wulan untuk menemaninya. Tetapi kalau hanya satu lukisan yang diminati, penyelenggara bisa sakit hati.
Berbeda dengan gadis manis berambut hitam sebahu itu, Awan adalah pecinta seni. Seorang pemuda energik bermata sipit. Dilehernya selalu tergantung kamera profesional. Mata sipit itu mungkin akibat kebiasaannya mengintip objek di balik kamera. Ah. . .tentu saja itu hanya kelakar. Tapi jangan salah meskipun sipit, mata itu memiliki tatapan setajam elang yang siap menaklukan siapapun. Termasuk Wulan. Mungkin.
Di depan lukisan bertema “Senja di penghujung surya” cerita Wulan dan Awan dimulai. Mungkin cinta pada pandangan pertama. Karena sejak melihat Wulan, Awan tahu ia menemukan yang dicari. Seperti halnya Wulan yang menemukan apa yang ia cari dalam lukisan di hadapannya.

***
    “Di sana tempat kita ketemu dulu ya Lan,” ucap Awan sambil memandangi gedung kesenian yang berdiri kokoh di seberang cafe. Gedung yang mempertemukan mereka dulu.
 Wulan mengikuti arah mata Awan memandang. Teringat lagi sebuah lukisan yang membawanya masuk dalam dunia yang belum pernah diminatinya.
    “Ngomong-ngomong itu lukisan apa ya?” tanya Awan.
    “Senja di penghujung surya,” jawab Wulan perlahan,”Sayang. . .lukisan itu nggak dijual.”
    “Hahaha. . .sebegitu tergila-gilanya kamu sama senja,”goda Awan.
    “Jelas. . .”
    “Kenapa?”
    “Karena aku suka sekali senja.”
 “Lebih dari aku?” sebuah pertanyaan bodoh terlontar begitu saja seiring dengan munculnya perasaan yang tidak enak yang entah darimana datangnya.
    “Ya,” jawab Wulan begitu tegasnya sampai Awan merasa cukup terkejut. Entah kenapa, perasaan tidak enak itu masih bergelayut manja dihatinya dan enggan untuk beranjak pergi. Enam bulan mereka bersama tapi belum pernah sekalipun gadis itu mengatakan cinta.
    Awan membuang jauh-jauh semua perasaan tidak enak yang memenuhi hatinya. Sungguh terlalu mencemburui sesuatu yang tidak nampak. Ia sendiri malu dengan reaksi tubuhnya. Senja itu hanya sebuah fenomena alam tak pantas dicemburui. Lagipula cinta tak selalu harus diucapkan.

***
3 bulan kemudian. . .

     “Senja di penghujung surya,” gumam Wulan kagum menatap lukisan yang terpampang megah di hadapannya.
    Awan merasa kelegaan mengaliri tubuhnya ketika menyaksikan reaksi Wulan. Seminggu lamanya dia mempersiapkan kejutan ini. Hampir saja ia menyerah, mencari lukisan bukan hal yang mudah apalagi jika tak tahu siapa pelukisnya. Tetapi tekadnya untuk memberikan kado istimewa di hari ulang tahun Wulan. Awan semakin giat mencari dan tepat 11 November 2010 usahanya membuahkan hasil. Ia memberanikan diri melingkarkan tangannya di pinggang Wulan yang masih menatap kagum lukisan di hadapannya. Beberapa saat lamanya mereka berdua terhanyut dalam diam dan menikmati lukisan dihadapan mereka. Wulan menyandarkan kepalanya ke bahu Awan. Ia membawakan senja untuk kekasihnya.
    “Terima kasih,” bisik Wulan.
    “Kembali kasih,” balas Awan kemudian mengecup kening Wulan lembut.
    Wulan menatap mata Awan dan menemukan sebongkah cinta yang besar di sana. Cinta yang selalu merengkuhnya tiap hari. Perasaan yang dibalut dengan ketulusan sekaligus kesetiaan. Tapi entah kenapa hatinya masih ragu. Firasatnya membisikkan sesuatu yang besar akan segera terjadi. Selama beberapa waktu belakangan Wulan mendapati batas tak kasat mata yang berada di antara mereka semakin lama semakin jelas.
    “Take your time dear,” bisik Awan lalu berbalik dan mulai berburu bersama kamera profesional yang sedari tadi bergelantungan di lehernya.
Wulan menatap punggung kekasihnya hingga punggung bidang itu menghilang di balik pintu utama kemudian dia berbalik dan menikmati lagi lukisan yang begitu dikaguminya. Dalam hati sebuah perasaan tidak nyaman mengusiknya. Kenapa ia merasa Awan begitu jauh? Tapi, ia merasa lelah jika harus berperang melawan hatinya sendiri jadi ia memilih untuk mencoba tidak peduli dan terhanyut dalam kehangatan fenomena senja yang dibawa oleh lukisan yang terpampang gagah dihadapannya. Hingga sebuah teguran yang tiba-tiba mengejutkan Wulan yang tengah terhanyut dalam dunianya.
    “9 bulan yang lalu Anda juga tak bergeming di depan lukisan ini bukan?” tegur sebuah suara yang datang demikian tiba-tiba.
    “ah... ya... Benar, bagaimana Anda bisa tahu?” terbata-bata Wulan menjawab pertanyaan tiba-tiba itu.
    “Itu pameran pertama saya dan tak menyangka saya memiliki penggemar,” Wulan mendapati sebuah lesung pipi menghiasi wajah pemuda di hadapannya saat dia tersenyum.
    “Jadi Anda pelukisnya?” tanya Wulan dengan mata membeliak kagum.
    “Begitulah. . .” ujar si pemuda sambil mengedikkan bahu,”Senang melihat penggemar saya datang lagi,” selorohnya.
    “Hahaha . . .begitulah. . . saya benar-benar menyukai lukisan ini,” jawab Wulan kemudian berbalik menatap lukisan itu lagi.
    “Kenapa?” pemuda itu berbalik ikut menikmati.  Beberapa waktu tadi si pemuda cukup terhanyut menikmati keindahan yang begitu sempurna. Kecantikan yang dipadukan dengan keanggunan dan kelembutan. Kecantikan yang terpahat pada seorang gadis yang tampak begitu hanyut dengan dunianya sendiri, seolah mengabaikan sekelilingnya.
    “Karena lukisan ini bertema senja. Saya sangat suka senja. Entah kenapa ada rasa hangat yang terasa kuat saat melihatnya,” terang Wulan, ia berpaling dan tersenyum pada pemuda yang tampak tertegun sambil menatapnya. “Ah. . .maaf, saya jadi banyak bicara,” ucap Wulan tersipu saat menyadari betapa lancar mulutnya ini bicara. Pada orang yang baru dikenal pula.
    “Tak apa,” gumam pemuda misterius ini sambil mengulum sebuah senyum yang entah mengapa begitu memikat di mata Wulan. Sebuah perasaan hangat menyapanya entah dari mana. Muncul tiba-tiba dan membuatnya demikian tertarik pada sosok yang berdiri di sampingnya.
    “Maaf, kita belum berkenalan. Saya Wulan?” Wulan menyodorkan tangannya terlebih dahulu. Tanpa ragu pemuda itu meraih tangan Wulan dan menggenggamnya erat.
    “Senja.” sahut pemuda itu mantap dan penuh percaya diri dengan senyum menawan menghias wajah tampannya. Wulan terhenyak dan terpaku di tempatnya berdiri. Ia tak menyadari tangannya berdiam nyaman dalam genggaman Senja. 
Kedua orang itu sadar bahwa sesuatu yang hangat telah menyapa hati mereka. Satu hal yang tidak mereka sadari adalah sosok yang berdiri di belakang mereka dan terabaikan oleh dunia yang mereka berdua buat sendiri. Sosok yang terasing meski hanya berjarak beberapa jengkal saja. Seperti siang yang berlalu digantikan senja yang datang. Cinta yang membara bagai terik matahari di antara awan yang panas, tergantikan cinta yang lembut bagai senja yang romantis. Senja datang diiringi dengan rembulan yang tampil anggun mempesona. Dengan caranya kehangatan telah menghantarkan Senja untuk Wulan.

***

Elora

Tidak ada komentar:

Posting Komentar