Jangan samakan penggemar film Korea dengan penggemar musik Korea (K-Pop lover). Meskipun kadang dua hal tersebut memang seringkali berkorelasi positif. Saya sendiri cukup menggemari film Korea (dibaca: ungkapan halus dari gila film Korea) dan kurang paham dengan lagu-lagu ala K-Pop. Bukan karena tidak bagus, tapi karena saya sendiri tidak faham mereka bicara apa dalam lagu-lagu yang mereka nyanyikan meski harus saya akui musiknya cukup menyenangkan untuk didengarkan.
Film Korea yang saya tonton pertama berjudul "Endless Love". Sebuah film yang dibumbui dengan kisah cinta dramatis dan cukup menguras air mata. Dan akhirnya membawa nama Song Hye Kyo menjadi idola baru bagi remaja Indonesia. Aktingnya sebagai gadis yang mengidap leukimia sukses membuat para penggemarnya termehek-mehek.Film inilah yang menjadi titik awal di mana saya tertarik dengan film Korea. Pemilihan tempat yang sangat indah, sudut pengambilan gambar yang tidak monoton (tidak hanya close up) dan cerita yang memiliki alur yang jelas membuat saya jatuh hati.
Sayangnya... akhir-akhir ini, beberapa orang sering mencibir kegemaran saya mengikuti serial drama Korea. (terlepas dari ini adalah selera). Beberapa kakak saya beranggapan bahwa efek film Korea membuat kondisi psikologis seseorang menjadi menye-menye (dibaca: lemah atau kurang lebih begitu). Beberapa dari mereka beranggapan terlalu sempit bahwa film Korea adalah "Sinetron versi Korea". Eits...tunggu dulu, kalau pemahaman ini jelas saya tidak setuju.
Harus saya akui kalau saya memang tidak tertarik dengan sinetron Indonesia, sehingga tidak bijak menyamakan keduanya. Bisa jadi sinetron Indonesia memiliki daya tarik tersendiri bagi penggemarnya, akan tetapi bagi saya film Korea memiliki daya tarik yang tidak sedangkal yang dibayangkan oleh beberapa orang yang tidak masuk dalam jajaran penggemar film Korea. Kenapa demikian? Berikut alasan saya:
1. Film Korea itu punya alur cerita yang jelas.
Saya rasa sudah bukan lagi jamannya di mana Anda menikmati serial bersambung yang isi ceritanya berputar-putar tanpa jelas sebenarnya itu serial mau berbicara tentang apa. Ditambah lagi jika isinya hanya trik-trik berlebihan sebagai bentuk kekejian saja. Apalagi, saya tidak habis pikir dengan perpanjangan-perpanjangan episode yang diberikan hanya karena serial itu digemari, sehingga serial itu "nggak ada matinya" sampai-sampai Sutradara serial tersebut harus memutar otak untuk berpikir, "Episode ini siapa lagi ya yang mati?". Nggak berhenti disitu aja, tetapi penonton dibuat terlongong-longong dengan kenyataan bahwa Kematian adalah sebuah lelucon April MOP di mana ternyata itu hanya rekayasa. Episode selanjutnya, yang mati bangkit lagi dan jadi orang lain. Buset....serasa film Tom and Jerry kan jadinya.
Hal ini tidak berlaku di serial drama Korea. Mereka membuat serial di mana sesuai dengan kasanah penceritaan di mana ada awal, klimaks dan tamat. Jadi, meskipun penggemarnya buanyak, tetap aja tamat. Tengok saja BBF (Boy Before Flower) yang memberi dampak panas dingin dengan keberadaan empat lelaki tampan yang memikat. Ceritanya ringan, berkisar tentang cinta yang dibumbui perjuangan kehidupan. Tetapi film ini nggak melulu tentang gadis cengeng yang terlalu baik seperti menunggu durian runtuh, tetapi tentang perjuangan dia dalam menjalani kehidupannya. Dan dari episode 1 sampai akhir, benang merahnya benar-benar kuat.
2. Film Korea tidak melulu tentang cinta.
Siapa bilang film Korea cuma bertemakan kisah cinta dramatis penuh air mata? Saya memang mengakui cinta memang selalu sukses menjadi bumbu pemanis tapi tidak selalu menjadi tema pertama. Contohnya: The Great Queen Seondeok yang berisi tentang bagaimana seorang wanita Korea memiliki kecerdasan yang luar biasa, sehingga memiliki karisma yang mampu menggerakkan orang banyak. Selain itu juga berisi berbagai macam taktik-taktik perang yang anggun dan tidak mudah terbaca. Atau serial berjudul Jewel in the Palace yang menceritakan tentang dokter wanita pertama di Korea. see??? Bersyukur kita punya banyak pahlawan yang sangat rendah hati sehingga tidak menuntut kisah mereka dipublikasikan dan membiarkan para hantu dan abg ababil yang eksis dikancah layar kaca.
Saya sadar bahwa pemilihan tontonan kembali lagi kepada selera. Sebagai WNI saya juga memiliki kecintaan pada tayangan-tayangan yang disiarkan televisi negeri maupun swasta di Indonesia (selain sinetron). Tetapi setiap orang pasti memiliki alasan mengapa dia menyukai sesuatu, dan ini alasan saya. Mari saling menghargai, dan saya juga akan mencoba menghargai para pecinta sinetron. Bukan dengan ikut-ikutan nimbrung nonton, tetapi cukup dengan bersabar saat menunggu jam sinetron habis dan mencari serial lain yang lebih asoy. Dan buat kalian yang belum tertarik, siapa tau mulai merasa getar-getar panggilan untuk mengikuti serial Korea. hehehe....
Elora
1. Film Korea itu punya alur cerita yang jelas.
Saya rasa sudah bukan lagi jamannya di mana Anda menikmati serial bersambung yang isi ceritanya berputar-putar tanpa jelas sebenarnya itu serial mau berbicara tentang apa. Ditambah lagi jika isinya hanya trik-trik berlebihan sebagai bentuk kekejian saja. Apalagi, saya tidak habis pikir dengan perpanjangan-perpanjangan episode yang diberikan hanya karena serial itu digemari, sehingga serial itu "nggak ada matinya" sampai-sampai Sutradara serial tersebut harus memutar otak untuk berpikir, "Episode ini siapa lagi ya yang mati?". Nggak berhenti disitu aja, tetapi penonton dibuat terlongong-longong dengan kenyataan bahwa Kematian adalah sebuah lelucon April MOP di mana ternyata itu hanya rekayasa. Episode selanjutnya, yang mati bangkit lagi dan jadi orang lain. Buset....serasa film Tom and Jerry kan jadinya.
Hal ini tidak berlaku di serial drama Korea. Mereka membuat serial di mana sesuai dengan kasanah penceritaan di mana ada awal, klimaks dan tamat. Jadi, meskipun penggemarnya buanyak, tetap aja tamat. Tengok saja BBF (Boy Before Flower) yang memberi dampak panas dingin dengan keberadaan empat lelaki tampan yang memikat. Ceritanya ringan, berkisar tentang cinta yang dibumbui perjuangan kehidupan. Tetapi film ini nggak melulu tentang gadis cengeng yang terlalu baik seperti menunggu durian runtuh, tetapi tentang perjuangan dia dalam menjalani kehidupannya. Dan dari episode 1 sampai akhir, benang merahnya benar-benar kuat.
2. Film Korea tidak melulu tentang cinta.
Siapa bilang film Korea cuma bertemakan kisah cinta dramatis penuh air mata? Saya memang mengakui cinta memang selalu sukses menjadi bumbu pemanis tapi tidak selalu menjadi tema pertama. Contohnya: The Great Queen Seondeok yang berisi tentang bagaimana seorang wanita Korea memiliki kecerdasan yang luar biasa, sehingga memiliki karisma yang mampu menggerakkan orang banyak. Selain itu juga berisi berbagai macam taktik-taktik perang yang anggun dan tidak mudah terbaca. Atau serial berjudul Jewel in the Palace yang menceritakan tentang dokter wanita pertama di Korea. see??? Bersyukur kita punya banyak pahlawan yang sangat rendah hati sehingga tidak menuntut kisah mereka dipublikasikan dan membiarkan para hantu dan abg ababil yang eksis dikancah layar kaca.
Saya sadar bahwa pemilihan tontonan kembali lagi kepada selera. Sebagai WNI saya juga memiliki kecintaan pada tayangan-tayangan yang disiarkan televisi negeri maupun swasta di Indonesia (selain sinetron). Tetapi setiap orang pasti memiliki alasan mengapa dia menyukai sesuatu, dan ini alasan saya. Mari saling menghargai, dan saya juga akan mencoba menghargai para pecinta sinetron. Bukan dengan ikut-ikutan nimbrung nonton, tetapi cukup dengan bersabar saat menunggu jam sinetron habis dan mencari serial lain yang lebih asoy. Dan buat kalian yang belum tertarik, siapa tau mulai merasa getar-getar panggilan untuk mengikuti serial Korea. hehehe....
Elora


Tidak ada komentar:
Posting Komentar